Menu Close Menu

Menbud-Menpar Sinergikan Cagar Budaya untuk Dongkrak Wisata

Jumat, 27 Februari 2026 | 17.00 WIB


Jakarta – Pemerintah memperkuat sinergi lintas kementerian untuk mengakselerasi pariwisata berbasis budaya. Fadli Zon bertemu Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (24/2/2026), guna menyelaraskan integrasi data cagar budaya, penguatan ekosistem event, penyusunan pola perjalanan wisata (travel pattern), hingga optimalisasi promosi digital dan diplomasi budaya.


“Budaya dan pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat. Kolaborasi ini kunci agar potensi budaya memberi dampak nyata pada peningkatan kunjungan wisatawan,” ujar Fadli Zon.


Kementerian Kebudayaan saat ini mengelola 313 Cagar Budaya Nasional dan 2.727 Warisan Budaya Takbenda (WBTB), dengan tambahan 514 WBTB baru pada 2025. Potensi ini dinilai belum sepenuhnya dimaksimalkan sebagai kekuatan destinasi wisata sejarah, religi, budaya, maupun kuliner. Pengemasan narasi dan storytelling menjadi fokus agar pengalaman wisata lebih kontekstual dan berkelanjutan.


Sejumlah situs prioritas telah berada dalam skema kerja sama pengelolaan dengan InJourney, antara lain Candi Borobudur, Candi Prambanan, Kompleks Ratu Boko, dan Candi Plaosan. Pemerintah juga memperkuat pengembangan kawasan Percandian Dieng serta Percandian Muara Jambi, termasuk pembangunan Candi Kedaton dan Koto Mahligai serta rencana peresmian Museum Sriwijaya Dharmakirti tahun depan.


Khusus Borobudur, Menbud menilai kapasitas kunjungan masih dapat dioptimalkan. Saat ini kuota wisatawan yang dapat naik ke struktur utama sekitar 4.000 orang per hari. Pemasangan chattra diharapkan memperkuat makna Borobudur sebagai living heritage yang bernilai spiritual sekaligus memiliki daya tarik global.


Selain itu, potensi narasi Jalur Rempah di Banda Neira, benteng kolonial di Maluku, hingga situs prasejarah Leang-Leang dan Leang Metanduno di Muna—yang berusia sekitar 67.800 tahun—dinilai strategis untuk dirangkai dalam pola perjalanan wisata terpadu berbasis sejarah peradaban.


Di bidang seni dan perfilman, Kementerian Kebudayaan konsisten mendukung partisipasi sineas Indonesia dalam berbagai festival film internasional serta menjadi tuan rumah Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Tahun ini, Indonesia juga berpartisipasi dalam Venice Biennale dengan mengirimkan 14 seniman perupa sebagai bagian dari diplomasi budaya yang sekaligus memperkuat promosi pariwisata Indonesia.


Menanggapi sinergi tersebut, Widiyanti menegaskan Kementerian Pariwisata fokus pada penguatan promosi dan infrastruktur destinasi, termasuk melalui platform digital indonesia.travel.id yang telah dilengkapi fitur analisis tren berbasis kecerdasan buatan.


“Kami membutuhkan dukungan data dan storytelling dari Kementerian Kebudayaan agar museum dan cagar budaya tampil lebih kuat di platform digital. Generasi muda mencari informasi secara daring, dan ini harus dimanfaatkan maksimal,” ujarnya.


Kementerian Pariwisata menargetkan peningkatan kunjungan sebesar 14 persen dengan sasaran 17 juta wisatawan mancanegara. Penguatan promosi berbasis pengalaman (experience-based tourism) menjadi strategi utama, termasuk melalui program Kharisma Event Nusantara (KEN) yang tahun ini mencakup 145 event nasional.


Sinergi kedua kementerian diharapkan membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya dari hulu ke hilir—mulai dari pelindungan dan penguatan aset, integrasi data, peningkatan kualitas event, hingga promosi global.


Langkah ini menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga modal strategis pembangunan. Dengan orkestrasi kebijakan yang terarah, Indonesia menargetkan bukan hanya kenaikan angka kunjungan, melainkan penguatan posisi sebagai pusat peradaban dan kebudayaan dunia.

 

Komentar