Menu Close Menu

Pidato Emosional di Davos, Prabowo: Anak Pemulung Tak Harus Jadi Pemulung! Kami Putus Rantai Kemiskinan

Minggu, 25 Januari 2026 | 08.00 WIB

  



DAVOS – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato yang menggugah di panggung dunia World Economic Forum (WEF) 2026Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).

Di hadapan para pemimpin global, Prabowo tidak hanya bicara soal angka pertumbuhan ekonomi, melainkan soal "nyawa" bangsa, yakni pendidikan. Ia menegaskan tekadnya untuk memutus kutukan kemiskinan yang kerap diwariskan turun-temurun melalui revolusi akses pendidikan bagi kaum papa.

“Pembangunan sumber daya manusia adalah kunci. Tidak ada negara yang bisa berharap stabil dan makmur jika rakyatnya buta huruf. Anak petani miskin tidak harus menjadi petani miskin. Anak pemulung tidak harus menjadi pemulung,” tegas Prabowo dengan nada berapi-api.

Antitesis Sekolah Asrama: Yang Miskin Prioritas Utama
Salah satu poin paling menarik dari paparan Presiden adalah pendekatannya yang tidak lazim (out of the box) dalam pembangunan infrastruktur pendidikan. Prabowo "membalik" stigma sekolah asrama (boarding school) yang selama ini identik dengan privilese anak orang kaya.

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 sekolah terpadu modern, di mana 166 unit di antaranya—khusus sekolah asrama—telah rampung dibangun khusus untuk anak-anak dari keluarga termiskin.

"Biasanya sekolah asrama hanya untuk anak-anak orang kaya. Tapi saya justru membangunnya untuk mereka yang sangat miskin, agar bisa memutus lingkaran kemiskinan," ungkapnya.

Banjir Teknologi: 1 Juta Panel Pintar
Tak hanya fisik bangunan, "isi kepala" sekolah juga dirombak total dengan teknologi. Prabowo memamerkan data agresif digitalisasi pendidikan nasional:

Tahun Lalu: Renovasi 16.140 sekolah dan distribusi 288.000 panel interaktif layar datar (75 inci).

Target Tahun Depan: Menambah 1 juta panel pintar interaktif.

Target Tahun Ini: Renovasi 60.000 sekolah lagi.

"Dalam tiga tahun, kami ingin semua sekolah di Indonesia memiliki setidaknya enam ruang kelas dengan panel digital interaktif," jelasnya.

Teknologi ini memungkinkan Presiden memantau langsung proses belajar mengajar dari Jakarta secara real-time. "Banyak warga desa yang terharu, untuk pertama kalinya mereka merasa dilihat dan dibantu oleh pemerintah pusat," tambah Prabowo menceritakan antusiasme di akar rumput.

Visi Prabowo tak berhenti di pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah kini tengah menjajaki skema kemitraan (twinning) dengan universitas-universitas elite dari Eropa, Inggris, dan Amerika Utara.

Tujuannya adalah membangun 10 universitas baru berstandar internasional di Tanah Air, serta mendirikan 500 pusat keunggulan (center of excellence) untuk menampung siswa-siswa jenius Indonesia agar tidak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan kelas wahid.

Pidato ini menegaskan posisi Indonesia yang menempatkan investasi SDM sebagai strategi utama—bukan pelengkap—dalam peta jalan menuju negara maju.

Komentar