Jakarta - Fenomena child grooming merupakan proses manipulasi yang kerap berlangsung halus, terselubung, dan sulit dikenali sejak awal. Pola ini sering dimulai dari relasi yang tampak positif, namun perlahan memasuki apa yang disebut sebagai zona abu-abu, ketika batas antara perhatian wajar dan upaya eksploitasi menjadi kabur.
Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, menjelaskan bahwa child grooming bukan semata persoalan perbedaan usia, melainkan berkaitan erat dengan ketimpangan kuasa dan kontrol emosional yang dibangun secara bertahap. "Pelaku biasanya memosisikan diri sebagai sosok yang paling memahami, mendukung, dan “aman” bagi anak atau remaja," ungkapnya dalam acara Kelas Orang Tua Bersahaja Kemendukbangga, di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ferlita mengingatkan orang tua agar mewaspadai zona abu-abu. Hal ini merujuk pada relasi yang secara kasat mata terlihat peduli dan suportif, namun memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan oleh anak. "Dalam banyak kasus, sinyal awal ini kerap diabaikan karena dianggap sebagai bentuk perhatian atau kedekatan biasa," ungkapnya.
Relasi yang terlihat baik belum tentu aman. Ferlita Sari menjelaskan, hubungan mentor dengan siswa yang terlalu eksklusif, pujian berlebihan dari guru favorit, hingga komunikasi privat tokoh publik dengan penggemar dapat menjadi pintu masuk child grooming. “Bahkan relasi romantis dengan perbedaan usia yang legal secara hukum tetap berisiko jika terdapat ketimpangan pengalaman dan kontrol emosional,” ujarnya.
Dampak child grooming juga tidak berhenti ketika relasi tersebut diputus. Anak yang menjadi korban sering mengalami trauma relasional berkepanjangan, termasuk kebingungan memahami hubungan yang sehat, perasaan bersalah, serta kesulitan mempercayai orang lain di masa depan. "Orang tua pun tidak luput dari dampak psikologis. Trauma sekunder kerap muncul dalam bentuk rasa gagal melindungi anak, kemarahan pada diri sendiri, hingga konflik antar pasangan. Dalam kondisi ini, pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat disarankan untuk membantu pemulihan kepercayaan dan kesehatan mental keluarga," saran Ferlita.
Kewaspadaan bagi Orang Tua dan Remaja
Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, defensif berlebihan, atau sangat protektif terhadap gawai karena adanya rahasia tertentu. "Sementara itu, remaja juga perlu merefleksikan relasinya sendiri, apakah masih memiliki kebebasan untuk berkata “tidak”, atau justru merasa takut, tertekan, dan bergantung secara emosional," jelasnya.
Pencegahan child grooming tidak cukup dilakukan melalui larangan kaku, melainkan dengan membangun kedekatan emosional yang kuat sejak dini. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang aman agar anak berani bercerita tanpa takut dihakimi.
Dialog terbuka tentang seksualitas juga penting agar anak memiliki pemahaman yang benar mengenai batasan tubuh dan relasi yang sehat. Pendampingan digital perlu dilakukan secara bijak, dengan menyeimbangkan kepercayaan, privasi, dan edukasi risiko dunia maya.
Kedekatan emosional yang terawat akan membuat orang tua tetap memiliki akses untuk mengenali tanda bahaya sebelum manipulasi berkembang lebih jauh. "Relasi yang hangat, aman, dan terbuka menjadi kunci utama dalam melindungi anak dari praktik manipulasi psikologis child grooming yang mengancam masa depan mereka," pungkasnya.








Komentar