Jakarta - Kementerian Dalam Negeri mengarahkan daerah perbatasan, termasuk Batam, Kepulauan Riau, untuk menyiapkan lokasi penampungan sementara bagi pengungsi luar negeri sebagai langkah antisipasi ke depan.
Direktur Kewaspadaan Nasional Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Aang Witarsa Rofik, menyatakan penanganan pengungsi ke depan tidak bisa lagi dilakukan secara reaktif. "Dulu mungkin masih memadai, tapi ke depan perlu mitigasi serius. Saat ini jumlah pengungsi di Indonesia sekitar 12.060 orang, terdiri dari 7.377 pengungsi dan 4.683 pencari suaka. Isu Rohingya juga menjadi perhatian besar di daerah," ujar Aang melalui ketetangan resmi, dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Pengungsi Luar Negeri di Batam, Rabu (28/1/2026).
Ia mengatakan, pada 2026 terdapat sejumlah agenda penting, mulai dari penentuan lokasi penampungan sementara, skema pembiayaan hidup pengungsi, hingga pengaturan pengungsi mandiri, termasuk batasan bekerja.
Arahan itu sejalan dengan rencana revisi Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri. "Indonesia itu negara transit, bukan negara tujuan. Tapi, transit sampai kapan, ini yang perlu penataan ulang," katanya.
Menurut Aang, aspek keamanan nasional tetap menjadi perhatian utama, diiringi upaya pencegahan konflik dengan warga lokal melalui edukasi dan sosialisasi. "Meski Indonesia tidak meratifikasi Konvensi Pengungsi PBB, prinsip kemanusiaan tetap harus dikedepankan. Kami juga akan melakukan uji petik penanganan pengungsi di sejumlah lokasi di Batam. Jadi, rakor ini sebagai pemantik untuk penetapan lokasi pengungsian sementara," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Batam Firmansyah menjelaskan Batam menjadi titik transit sebelum para pengungsi menuju negara tujuan akhir. "Saat ini, penampungan pengungsi di Batam berada di Hotel Kolekta, Sekupang, yang dikelola bersama organisasi internasional IOM (International Organization for Migration) dan pihak imigrasi setempat," katanya.
Berdasarkan data Pemkot Batam, sedikitnya ada 359 pengungsi yang berasal dari Sudan, Afghanistan, Somalia, Ethiopia, Irak, Palestina, dan Pakistan. Dilaporkan tidak ada pengungsi Rohingya.
Firmansyah merinci, sejumlah 173 pengungsi telah tinggal di Batam selama 8–10 tahun, sementara 144 orang lainnya lebih dari 10 tahun. Selain itu, terdapat 67 anak pengungsi yang mengikuti pendidikan formal di Batam.
.jpeg)







Komentar