Menu Close Menu

Waspada Child Grooming! Wamen Isyana: Kelekatan Keluarga Adalah Perisai Terakhir Anak dari Predator Seksual

Jumat, 30 Januari 2026 | 08.57 WIB

  


JAKARTA — Fenomena child grooming kini bermutasi menjadi ancaman senyap yang menusuk jantung pertahanan keluarga Indonesia. Bukan sekadar kejahatan biasa, ini adalah manipulasi psikologis sistematis yang kerap kali terlambat disadari karena pelakunya pandai bersandiwara sebagai sosok "malaikat".


Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBNRatu Ayu Isyana Bagoes Oka, menekankan urgensi ini dalam acara "Kelas Orang Tua Bersahaja" di Jakarta, Rabu (28/1/2026). Isu ini kembali membetot perhatian publik pasca-viralnya buku "Broken Strings" karya artis Aurelie Moeremans yang menelanjangi pengalaman pahit terkait grooming.


Menurut Isyana, child grooming bukanlah insiden tunggal yang terjadi tiba-tiba. Ini adalah serangan bertahap untuk menggeser posisi orang tua sebagai sosok terpenting di mata anak.


"Pelaku sering kali memberikan perhatian berlebih dan menumbuhkan rasa percaya, tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada keluarganya. Tanda-tanda awal ini sulit dikenali karena tampak seperti perhatian wajar, padahal tujuannya merusak kelekatan (attachment) anak dan orang tua," tegas Isyana.


Lima Tahapan Maut Child Grooming

Dalam paparannya, Isyana membedah modus operandi pelaku yang umumnya melewati lima fase krusial. Orang tua wajib menghafal pola ini:


1. Penargetan (Targeting): Pelaku mengincar anak yang terlihat rentan atau kurang kasih sayang. Namun, ingat, anak dengan keluarga harmonis pun tak luput dari risiko.

2. Membangun Kepercayaan: Menggunakan hadiah, pujian, dan validasi berlebih untuk menjadi "sahabat" korban.

3. Isolasi Sosial: Perlahan memisahkan korban dari lingkungan normalnya dengan narasi, "Hanya aku yang mengerti kamu, orang tuamu tidak."

4. Desensitisasi: Melemahkan batasan norma. Hal-hal berbau seksual mulai diperkenalkan secara halus hingga dianggap wajar oleh anak.

5. Mempertahankan Kontrol: Tahap akhir di mana pelaku menggunakan rasa takut, ancaman, atau rasa malu untuk membungkam korban.


Ancaman Digital: Catfishing hingga Sextortion


Di era digital, predator bersembunyi di balik layar. Isyana menyoroti fenomena catfishing, di mana pelaku dewasa menyamar sebagai teman sebaya di media sosial atau game online.


"Relasi semu ini sering berujung pada permintaan foto atau video tidak pantas. Saat anak menurut, materi itu dijadikan alat pemerasan atau sextortion. Anak terjebak dalam diam karena rasa malu yang mendalam," papar mantan jurnalis senior tersebut.


Mengapa Remaja Mudah Terpedaya?


Secara ilmiah, kerentanan remaja memiliki penjelasan biologis. Mengutip buku "The Teenage Brain" karya Frances E. Jensen, Isyana menjelaskan bahwa bagian otak Prefrontal Cortex (PFC)—pusat pengambilan keputusan dan manajemen risiko—baru matang sempurna di usia 25 tahun.


"Remaja secara biologis belum mampu menimbang risiko sekomprehensif orang dewasa. Karena itu, mereka butuh orang tua sebagai 'rem' dan figur pengaman," jelasnya.


Solusi: Rebut Kembali Hati Anak

Dampak grooming sangat destruktif, mulai dari depresi hingga trauma seumur hidup. Lantas, apa benteng pertahanannya? Jawabannya adalah Kelekatan Keluarga (Family Attachment).


Mengutip buku "Hold On to Your Kids", Isyana mengingatkan orang tua untuk tetap relevan di mata anak, meskipun gempuran pengaruh teman sebaya sangat kuat.


"Hubungan yang hangat dan bermakna di rumah adalah kunci. Jangan biarkan anak mencari validasi dari orang asing yang berniat jahat," pungkasnya.


Sebagai langkah konkret, Kemendukbangga menggulirkan program "Kelas Orang Tua Bersahaja" (Bersahabat dengan Remaja) untuk membekali orang tua strategi komunikasi yang efektif demi melindungi masa depan generasi penerus bangsa.

Komentar