Menu Close Menu

Waspada Child Grooming! Bukan Sekadar Beda Usia, Ini Tahapan Mengerikan dan Ciri yang Wajib Orang Tua Tahu

Jumat, 30 Januari 2026 | 09.04 WIB

  



JAKARTA — Fenomena child grooming kian menjadi momok menakutkan bagi keluarga Indonesia. Salah kaprah yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap grooming hanya soal perbedaan usia yang mencolok. Padahal, intinya jauh lebih jahat: ketimpangan kuasa dan manipulasi psikologis.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Psikolog Anak dan Remaja, Ferlita Sari, dalam acara "Kelas Orang Tua Bersahaja" yang dihelat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Rabu (28/1/2026). 

Ferlita menegaskan, child grooming adalah strategi predator untuk membangun relasi tidak setara. Tujuannya satu: menguasai, mengontrol, dan menciptakan ketergantungan emosional pada korban sebelum melakukan eksploitasi.

"Relasi beda usia tidak otomatis disebut grooming. Yang menentukan adalah dinamika relasinya: apakah ada upaya mengontrol, memanipulasi emosi, dan mengambil keuntungan dari ketergantungan korban," tegas Ferlita di hadapan para orang tua.

Mengapa Remaja Jadi Sasaran Empuk?

Secara biologis dan psikologis, remaja adalah target paling rentan. Ferlita membedah fakta neurologis bahwa bagian otak prefrontal cortex—yang berfungsi sebagai pusat pengambilan keputusan rasional—belum matang sempurna hingga usia 25 tahun.

Akibatnya, remaja lebih mudah dikuasai emosi ketimbang logika. Kondisi ini diperparah dengan fase pencarian jati diri dan tingginya kebutuhan akan validasi. Inilah celah yang dimanfaatkan pelaku grooming.

"Anak di bawah 18 tahun belum memiliki kapasitas penuh untuk memberikan persetujuan (consent). Karena itu, relasi dengan orang dewasa yang memiliki kuasa (jabatan, uang, status sosial) selalu berisiko dieksploitasi," paparnya.

Beda Grooming dan Pedofilia: Musuh dalam Selimut

Poin krusial yang sering luput dari pengamatan orang tua adalah perbedaan grooming dengan pedofilia konvensional. Menurut Ferlita, pada pedofilia, hasrat seksual mungkin terlihat sejak awal. Namun, pada grooming, tahap awalnya sangat halus, non-seksual, dan sering kali pelaku terlihat seperti sosok 'malaikat penolong'.

Pelaku bisa saja guru, pelatih, atau figur yang dianggap berpengalaman, yang membuat anak merasa "paling dimengerti" dibanding orang tuanya sendiri.

6 Tahapan Child Grooming (Orang Tua Wajib Catat!)

Ferlita menguraikan siklus grooming yang sistematis agar orang tua bisa memotong rantai ini sebelum terlambat:

1. Targeting: Memilih anak yang terlihat kesepian, butuh perhatian, atau punya masalah keluarga.
2. Membangun Kedekatan: Masuk secara intens ke kehidupan anak.
3. Mengisi Kebutuhan Emosional: Menjadi tempat curhat ternyaman, memberikan validasi yang tidak didapat di rumah.
4. Isolasi: Perlahan memisahkan anak dari keluarga dan teman dengan narasi "hanya aku yang mengerti kamu".
5. Seksualisasi & Kontrol: Normalisasi percakapan seksual hingga terjadi eksploitasi.
6. Ketergantungan: Korban merasa berhutang budi atau takut kehilangan pelaku.
Di era digital, modus ini bermutasi lewat game online dan DM media sosial. "Waspada jika ada ajakan pindah ke platform privat (seperti Telegram/WhatsApp) atau pengaturan jam online rahasia," tambah Ferlita.

Tanda Bahaya dan 'Benteng' Terakhir

Bagaimana cara mendeteksinya? Ferlita meminta orang tua peka terhadap perubahan perilaku anak:

Menjadi sangat tertutup dan defensif.
Sangat protektif terhadap gawai (HP/Laptop).
Munculnya "rahasia" yang tidak boleh diketahui keluarga.
Adanya rasa bersalah atau ketakutan yang tidak wajar.

Sebagai langkah preventif, Ferlita menyarankan orang tua untuk selalu mengajukan tiga pertanyaan kunci saat melihat relasi anak: Siapa yang lebih berkuasa? Apakah anak jadi mandiri atau tergantung? Adakah rahasia yang sengaja dibangun?

"Relasi yang sehat membuat remaja tetap punya pilihan dan berani berkata tidak. Keterbukaan dan komunikasi yang aman di rumah adalah benteng utama pencegahan child grooming," pungkasnya.

Komentar