Menu Close Menu

Lahan Sawah Depok-Tegalsari dan Ujungnegoro Batang Ludes Diterjang Banjir

Rabu, 28 Januari 2026 | 09.13 WIB

   


Batang - Hamparan sawah di wilayah UjungnegoroDepok, hingga TegalsariKecamatan KandemanKabupaten Batang yang seharusnya mulai menguning dan membawa berkah, kini justru menjadi ladang duka bagi para petani. Ratusan hektare tanaman padi yang tengah "mratak" (mulai berisi) ludes tak bersisa.


Musuhnya bukan lagi sekadar cuaca, melainkan serangan koloni burung emprit yang tak terbendung dan ancaman banjir tahunan.


Seorang petani Desa Ujungnegoro Tasno mengatakan, musim tanam kali ini adalah mimpi buruk. Lahan seluas 10 hektare miliknya terpaksa dinyatakan puso (rusak parah). Harapan untuk panen sirna setelah burung emprit menyerbu bulir-bulir padinya tanpa ampun.


“Segala cara telah ia lakukan, mulai dari memasang jaring yang menyelimuti sawah hingga membuat bunyi-bunyian gaduh untuk menakut-nakuti sang hama. Namun, upaya itu sia-sia. Sudah dijaring dan ditakut-takuti dengan bunyi-bunyian, tapi tidak takut burungnya,” katanya saat ditemui di Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Selasa (27/1/2026).


Senada dengan Taryadi, Ketua Kelompok Tani Sregep Mantep 3 Desa Tegalsari, keresahan juga dirasakan oleh petani lain di perbatasan Depok dan Ujungnegoro. Teknologi konvensional dianggap sudah tidak mumpuni lagi menghadapi serangan yang masif.


“Ora iso mengatasi, dipangani (dimakan terus). Parah! Mungkin ada teknologi lain lah ya untuk bisa mengusir burung,” ungkapnya.


Selain hama, masalah infrastruktur air menjadi duri dalam daging bagi warga setempat. Kali Sono, sungai yang membelah perbatasan Ujungnegoro dan Depok, dituding sebagai penyebab banjir yang kerap merendam sawah dalam waktu lama.


“Kondisi sungai yang berkelok-kelok tajam membuat aliran air tidak lancar saat debit meningkat. Warga mengibaratkan bentuk sungai tersebut seperti ular yang menghambat laju air menuju hilir. Sungainya itu menyerupai ular jalan. Jadi tidak bisa lurus. Harapannya kedepan banjirnya setiap tahun bisa cepat surut,” terangnya.


Kini, para petani hanya bisa menggantungkan harapan pada pemerintah. Mereka mendesak adanya normalisasi atau pelurusan aliran Kali Sono agar sawah mereka tak lagi menjadi "kolam abadi" setiap musim hujan tiba.


“Tanpa solusi nyata, ratusan hektare sawah di perbatasan ini hanya akan terus menjadi saksi bisu kegagalan panen yang berulang,” pungkasnya.

Komentar