Ini Penjelasan Lengkap Prof. Ngakan Putu Oka Tentang Taman Nasional Taka Bonerate | DHEAN NEWS
Menu Close Menu

Ini Penjelasan Lengkap Prof. Ngakan Putu Oka Tentang Taman Nasional Taka Bonerate

Selasa, 25 September 2018 | 23.14 WIB
DHEAN.NEWS SELAYAR - Dosen kehutanan Unhas Makassar Prof. Ngakan Putu Oka, jadi narasumber konsultasi publik penyusunan zonasi  Taman Nasional Taka Bonerate di Hotel Ryhan Square, Kecamatan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar (Sulsel), Selasa (25/9/2018).

Dihadiri oleh Kepala Balai TNTBR Faat Rudianto,  Wakapolres Selayar Kompol Syamsuddin, Danpos Kayuadi Serka Ahmad lamo, Dosen kehutanan Unhas Makassar Prof Amran Achmad, dan Prof  Ngakan Putu Oka, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato, Abd Rajab, Kasubag TU Balai Taman Nasional Taka Bonerate Nur Aisyah Amnur, serta staf Balai Taman Nasional Taka Bonerate Selayar dan undangan lainnya.

Kepala Balai TNTBR Faat Rudhianto mengatakan bahwa dua Guru besar ini mengetahui persis bagaimana Taka Bonerate ini ditunjuk jadi Taman Nasional, beliau ini adalah pelaku sejarahnya.

Dosen kehutanan Unhas Makassar Prof  Ngakan Putu Oka, mengatakan bahwa wilayah pesisir adalah Daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh Perubahan di darat dan laut seperti  Pantai,  Rawa payau , Mangrove, Estuaria, Padang lamun dan  Terumbu karang. Sedangkan  Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000  km2 beserta kesatuan ekosistemnya.

"Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem penghasil sumberdaya ikan terbesar di perairan laut. Kelestarian ekosistem terumbu karang dijaga oleh  ekosistem darat pulau, ekosistem mangrove, dan ekosistem padang lamun," kata Ngakan Putu Oka.

Menurutnya Ekosistem terumbu karang sangat rentan terhadap kerusakan, karena itu harus dijaga dari agen perusak, sistem penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, kegiatan di daratan yang menghasilkan banyak sedimen,  sampah dan bahan polutan lainnya.

"Kerawanan  ekosistem  terumbu karang, meski batuan karang terlihat kokoh, sebetulnya ekosistem ini sangat rentan mengalami kerusakan, akibat dampak perubahan lingkungan. Terumbu karang dapat mati karena Peningkatan suhu, Kualitas air yang buruk, terutama kecerahan dan sampah,  Peningkatan permukaan air laut dan Kegitan manusia. Penyebab kerusakan terumbu karang seperti bom, sampah, lumpur," tuturnya.

Komentar