Menu Close Menu

KWT Saromasea Tembus Produksi 5.000 Baglog Berkat Teknologi Tepat Guna; Tahun Kedua Fokus pada Rumah Kumbang IoT dan Steamer Autoclave

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16.58 WIB

  


Bulukumba – Terobosan nyata dalam pengembangan usaha mikro di sektor agribisnis kembali ditorehkan melalui program "Pemberdayaan Usaha Jamur Tiram Dengan Pendekatan Berbasis Potensi Sebagai Inovasi Kemandirian Ekonomi". Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemensainristek Dikti) ini menunjukkan lonjakan produksi yang signifikan, khususnya pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Saromasea.


Lompatan Produksi di Tahun Pertama


Ketua Tim Pelaksana, Dr. Arniati, SE., M.Pd., dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, memaparkan bahwa tahun pertama pengabdian telah berjalan dengan sangat optimal bagi Mitra 1 (KWT Saromasea). Intervensi teknologi tepat guna berupa alat pengisi/press baglog, steamer, dan mixer terbukti mampu mendongkrak kapasitas produksi kelompok.


"Sebelum ada alat, produksi kelompok hanya sekitar 800 baglog per bulan. Setelah penerapan teknologi inovasi ini, produksi melonjak drastis hingga mencapai 3.000 hingga 5.000 baglog per bulan. Ini tentu berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan pendapatan kelompok tani," ungkap Dr. Arniati, saat diwawancarai di sela-sela penyerahan alat di Bonto Nompo Kabupaten Bulukumba (13 Aguatus 2026) . Namun, di sisi lain, tim pelaksana mengakui bahwa pendampingan terhadap Mitra 2 (Usaha Jelita) masih memerlukan perhatian lebih dan belum berjalan optimal. 


Tahun Kedua: Revitalisasi Kumbung dan Teknologi Autoclave


Memasuki tahun kedua (2026), program ini menyiapkan langkah besar. Fokus prioritas diarahkan pada pengembangan Rumah Kumbung dengan sistem Internet of Things (IoT) untuk mengatur suhu dan kelembaban secara otomatis, serta penyediaan peralatan modern seperti Autoclave Steamer pengukus jamur, alat pencacah sekam, dan alat penggilingan kerupuk otomatis.


Salah satu tantangan utama yang teridentifikasi adalah kapasitas alat produksi yang besar namun belum diimbangi dengan kumbung yang memadai. Selama tahun pertama, aktivitas produksi belum merata ke semua anggota kelompok karena keterbatasan kumbung.


"Ke depan, kami ingin anggota kelompok beraktivitas bersama-sama. Untuk itu, kami akan membangun kumbung baru. Syukurnya, Pemerintah Desa merespons positif dan berkomitmen membantu penyediaan lahan serta berkolaborasi dengan mitra dalam pembangunan fisik kumbung," jelas Dr. Arniati.


Selain perluasan kumbung, pendampingan untuk Mitra 2 akan diintensifkan, khususnya dalam hal diversifikasi produk olahan jamur tiram (seperti kerupuk dan makanan ringan) serta penguatan strategi pemasaran untuk memperluas jangkauan pasar.


Kolaborasi dan Apresiasi


Program pemberdayaan ini melibatkan tim multidisiplin dari berbagai perguruan tinggi. Selain Dr. Arniati, tim pelaksana terdiri dari Dr. Muryani Arsal, SE., MM., Ak., CA., dari Unismuh Makassar; Putri Ida Sunaryathy Samad, ST., M.Si., P.hD dari Universitas Negeri Makassar; serta Dr. Andi Arman Asriadi., M.Pd., M.P., dari Unismuh Makassar.


Dengan potensi mitra yang besar dan dukungan penuh dari pemerintah desa, tim pelaksana optimis program ini layak untuk terus didanai dan dikembangkan. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi  atas kepercayaan pendanaan di tahun kedua ini. Serta dukungan penuh dari pihak Pimpinan Unismuh Makassar. Dukungan ini adalah wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi kerakyatan berbasis inovasi," tutup Dr. Arniati. 


Citizen reporter: Muryani Arsal (Dosen Unismuh Makassar)

Komentar