Menu Close Menu

Bonding Tak Cukup Larang Gawai, Orang Tua Harus Jadi Teladan Moral

Senin, 02 Maret 2026 | 18.00 WIB

 


 Jakarta - Membangun bonding (kedekatan) antara orang tua dan anak di era digital tidak bisa dilakukan hanya dengan melarang penggunaan gawai. Menurut Rose Mini Agoes Salim (Bunda Romi), Psikolog yang juga Guru Besar Tetap Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, orang tua kerap meminta anak menaruh telepon genggam, tetapi pada saat yang sama mereka sendiri masih sibuk dengan perangkatnya.


"Padahal, anak belajar terutama dari contoh nyata. Kalau ingin anak bisa mengontrol diri, orang tua lebih dulu harus menunjukkan kontrol diri,” ujar Bunda Romi dalam Podcast SAPA bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, di Jakarta, Sabtu (28/2/2026). 


Bunda Romi menjelaskan bahwa karakter seperti jujur dan disiplin merupakan turunan konkret dari moral. Setiap manusia, lahir dengan potensi moral, tetapi apakah nilai itu tumbuh atau tidak sangat bergantung pada stimulasi dari lingkungan, terutama keluarga.


Ia memaparkan tujuh nilai utama (virtue) yang perlu dimiliki orang tua sekaligus ditanamkan pada anak. Pertama, empati. Saat anak marah atau menangis, respons yang tepat bukan membungkam, melainkan bertanya dan memahami perasaannya. Dari sana anak belajar mengenali emosi diri dan orang lain.


Kedua, adalah kontrol diri. Anak perlu dibimbing untuk tidak menuruti keinginan dengan amarah. Orang tua dapat mengajarkan cara meminta dengan baik dan belajar menunda keinginan. Ketiga, nurani. Nilai benar dan salah diwariskan melalui kebiasaan sehari-hari. Dari orang tua, anak belajar membedakan mana tindakan yang layak dan mana yang tidak.


Keempat, kindness atau kebaikan hati. Nilai ini merupakan gabungan empati dan kontrol diri. Anak yang diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih cenderung memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.


Kelima, fairness atau keadilan. Bersikap adil bukan berarti menyamaratakan segala hal, melainkan memberi sesuai kebutuhan masing-masing anak tanpa membeda-bedakan.


Keenam, respek atau penghargaan terhadap orang lain, dan Ketujuh, toleransi dan tenggang rasa, yakni kemampuan memahami perbedaan. "Kalau ini masuk dalam pengasuhan sehari-hari, anak akan punya moral yang kuat. Mau era digital atau era apa pun, itu bisa terlampaui,” katanya.


Dengan empati yang tumbuh, misalnya, anak tidak mudah melakukan kekerasan meski terpapar game atau konten agresif. Ia mampu memilah karena memahami dampak perbuatannya terhadap orang lain.


Satu Jam Tanpa Gawai, Hadirkan Alternatif Nyata


Terkait gerakan satu jam berkualitas bersama keluarga tanpa gawai dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bunda Romi menyatakan dukungan. Namun ia menekankan, pembatasan tidak boleh berdiri sendiri. “Jangan melarang anak tanpa memberikan tandingan yang lebih menarik,” ujarnya.


Jika anak gemar bermain game sepak bola, orang tua bisa mengajaknya bermain bola sungguhan di lapangan. "Jika menjelang berbuka, libatkan anak memilih menu takjil atau menyiapkan sahur bersama. Keterlibatan membuat anak merasa dihargai dan diakui," ungkapnya. 


Ia juga mencontohkan kebiasaan makan malam bersama tanpa gawai. Meja makan seharusnya menjadi ruang percakapan dan kehangatan, bukan ruang layar. Dari dialog sederhana itulah nilai moral dan kedekatan emosional tumbuh.


Di tengah kemajuan teknologi, anak memang tidak mungkin sepenuhnya lepas dari gawai, bahkan dari kecerdasan buatan. Namun yang terpenting adalah memastikan penggunaannya tetap sehat dan seimbang. "Bukan soal melarang, tapi bagaimana kita membangun karakter dan memberi contoh,” tegasnya.


Bagi siapa pun yang kelak akan menjadi orang tua, pesan ini menjadi pengingat bahwa pengasuhan bukan hanya tentang aturan, melainkan tentang keteladanan, empati, dan kehadiran yang utuh di tengah keluarga.

Komentar