Saharuddin Ridwan : Kelola Sampah Organik dengan Magot | DHEAN NEWS
Menu Close Menu

Saharuddin Ridwan : Kelola Sampah Organik dengan Magot

Selasa, 05 Maret 2019 | 15.35 WIB


DHEAN.NEWS MAKASSAR - Berbagai upaya dalam mengelola sampah di Kota Makassar sudah dilakukan dengan baik. Meski demikian, upaya pengelolaan sampah seperti bank sampah, biodigister, dan komposter aerob belum mampu mereduksi sampah yang lebih besar dari potensi sampah yang dihasilkan penduduk kota makassar. 

Bank sampah selama ini menjadi andalan pemerintah kota Makassar karena setiap hari mampu mereduksi 30 ton sampah an organik seperti plastik, kertas, logam dan botol kaca. Jumlah tersebut baru sekitar 0.3 persen dari jumlah sampah yang dihasilkan. Sementara itu, khusus untuk pengolahan sampah organik memang belum maksimal karena pengomposan organik masih terbatas di lakukan per rumah tangga dengan komposter aerob. Kemudian teknologi sampah organik menjadi gas baru dikembangkan di 3 lokasi yakni di bank sampah adipura kecamatan Panakukang, bank sampah sukses abadi di kecamatan makassar dan bank sampah Mekar Swadaya di kecamatan Manggala. Sampah yang bisa terkelola per hari pun baru ditingkat rumah tangga dengan reduksi sampah organik 5 kg per hari. Walikota Makassar, moh. Ramdhan Pomanto pun sudah menginstruksikan ke kadis Lingkungan Hidup kota Makassar, Rusmayani Majid agar tahun 2019 ini mengadakan 100 biodigister.

Ketua Yayasan Peduli Negeri, Saharuddin Ridwan menanggapi hal ini mengaku harus ada upaya sistematis dan terukur dalam pengelolaan sampah organik. Saat ini akunya, lembaganya sementara mengembangkan teknologi sederhana dalam mengolah sampah dengan ulat dengan nama magot.
"Magot memang belum dikenal secara luas. Bahkan, magot lebih di pahami masyarakat awam sebagai belatung yang menjijikan serta sumber penyakit. Padahal, magot mempunyai banyak manfaat, salah satunya mengatasi masalah sampah yang bisa menambah nilai ekonomis," ujar mantan wartawan televisi nasional ini.

Menurutnya, magot berbeda dengan belatung. Magot merupakan larva serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF). Sementara yang lajim dikenal sebagai belatung atau dalam Bahasa inggris maggot, merupakan larva serangga Diptera (Haasbroek,2016). 

Belatung untuk sebutan larva housefly atau lalat rumah berperan sebagai vector penyakit sebaliknya, magot sebagai agen perombak atau kompos material organik dalam waktu singkat dapat meningkatkan kesuburan  dengan belatung.

Meskipun di Indonesia magot belum di optimalkan dalam skala industri ataupun untuk pengelolaan sampah, namun di luar negeri menurut Sahar yang pernah meninjau lokasi pengembangbiakan dan industri magot di Korea Selatan,  magot ini menjadi teknologi sederhana namun mampu mereduksi sampah makanan lebih cepat.

"Di Korea saya ke tempat pengembangbiakan magot nama perusahaannya entomo. Dan alhamdulillah saat ini entomo, green technologi center korea kerjasama pemkot Makassar dan biomag Indonesia sementara melakukan pengembangan program ini," ungkap Sahar.

Saat ini lanjutnya, di kantor yayasan peduli negeri sementara mengembangkan magot. Andi Nurdianzah, manager lingkungan YPN, menyatakan upaya kembang biak magot diawali melalui larva atau telur lalat BSF (black soldier fly). Kemudian larva tersebut menjadi ulat dan ulat inilah yang akan mengolah makanan menjadi pupuk. Bahkan magot atau ulat itu bisa langsung dikonsumsi menjadi pakan ternak, ikan dan ayam. 

"Di kantor kami, juga tersedia kolam ikan lele untuk melihat perkembangan ikan ketika mengkonsumsi magot. Kita coba juga ke ayam dan burung," kata Anca.

Komentar