Menu Close Menu

Doa Lintas Agama di Belanda untuk Korban Tsunami

Senin, 24 Desember 2018 | 20.49 WIB

DHEAN.NEWS BELANDA - KBRI Den Haag bekerja sama dengan Badan Kerjasama Umat Kristiani (BKUKIN), NBB Belanda, dan Sekebe Gamelan Semara Gita menyelenggarakan Doa Lintas Agama untuk korban tsunami yang dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja,  wakil-wakil tokoh agama dan ribuan masyarakat Indonesia di Belanda.

Kegiatan dikemas dalam nuansa Gebyar Budaya Indonesia yang diselenggarakan di Event Plaza, Lange Kleiweg, Rijswijk, Belanda. 

Acara dimulai dengan Ibadah Natal dilanjutkan dengan upacara Galungan, penyalaan lilin oleh tokoh-tokoh agama dan ditutup dengan Gebyar Budaya Indonesia.

Dalam acara dimaksud dilaksanakan doa bersama untuk negeri agar Bangsa Indonesia selalu damai, sejahtera dan terhindar dari segala bencana dan malapetaka. 

Duta Besar RI yang membuka secara resmi menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan sebagai bentuk solidaritas dan untuk mendoakan saudara-saudara kita para korban becana tsunami di Jawa Barat dan Lampung. 

Selain itu,  acara ini juga diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas keharmonisan, kerukunan, kedamaian dan persaudaraan diantara WNI di Belanda dan tanah air Indonesia.

"Semoga acara ini menjadi momentum buat kita semua untuk saling mendoakan, berbagi dan mempererat silaturahmi diantara kita. Perbedaan merupakan sumber  kekuatan bagi kita semua sebagai Bangsa Indonesia". Tegas Dubes Puja. 

Acara ini merupakan cerminan kerukunan, persaudaraan, solidaritas, serta keharmonisan hubungan beragama Warga Negara Indonesia di Belanda.  

Acara berlangsung dengan khidmat, penuh kehangatan dan keakraban dengan kehadiran ribuan masyarakat Indonesia di Belanda. Gebyar Budaya merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag dalam rangka pembinaan masyarakat dan mempererat hubungan silaturahmi dengan sesama WNI di Belanda. 

Sebagai penutup acara, para WNI disuguhkan dengan berbagai penampilan kekayaan kesenian dan  makanan Nusantara.

Komentar